Korban Gusuran Kampung Mekarsari Tak Lagi Tidur Dikuburan

0

POTRETTANGERANG.ID, Kota Tangerang – Tak lagi tidur beralaskan tanah kuburan, beratapkan terpal dan berselimutkan dingin malam. Keceriaan juga tersirat dari wajah anak-anak. Demikian gambaran warga korban eks gusuran Kampung Mekarsari, Kelurahan Panunggangan Barat, Kecamatan Cibodas Kota Tangerang.

Itu terlihat saat warga memasuki rusunawa (rumah susun) Betet, yang tak jauh dari lokasi penggusuran. Pada Selasa (12/12) malam, sekira 49 KK (kepala keluarga) siap jadi penghuni rusun.

Pemerintah Kota Tangerang akhirnya berhasil membujuk warga korban gusuran tersebut, yang sebelumnya kekeh tinggal dilokasi penggusuran menempati areal pemakaman. Dan menjadi sorotan masyarakat serta media.

“Alhamdulillah pak, kami untuk sementara ini tinggal disini (rusun-red),” kata Nuraheni ditemui BantenExpresdikamarnya lantai 2.

Nuraheni ditemani suaminya Masduki dan anak-anaknya malam itu langsung membersihkan kamar ruangan. Dengan membawa barang-barang perabotan seadanya sisa gusuran.

“Hanya ini pak yang bisa dibawa. Kami sudah tidak punya apa-apa lagi, ini juga sisa gusuran kemarin yang bisa diselamatkan,” kata dia sambil menunjukan buntalan kantong kresek hitam.

Suami isteri asal Indramayu ini mengaku sangat senang tinggal dirusun, meski untuk sementara. “Gak tahu pak kedepan kalau nanti dimintai bayaran. Saya pasrah saja, tapi kalau bisa milih mending mendirikan bangunan kami lagi disana (lokasi),” lirih Nuraheni yang berprofesi sebagai pemulung ini.

Pemerintah Kota Tangerang, Selasa (12/12) sore memediasi warga untuk pindah dari lokasi gusuran yang tidak layak. Dihadiri Camat Cibodas (Gunawan), Lurah Panunggangan Barat (Ahyar), Dinas Perkim (Daviar) dan termasuk kepala UPT Rusun (Ahmad Saefudin).

“Rusunawa Betet type 36 ini digratiskan untuk warga yang kemarin ditertibkan. Rusun ini fasilitasnya komplit, ada kasur, lemari, meja makan dan kamar mandi,” jelas Ahmad Saefudin kepala UPT Rusunawa.

Ia mengatakan tidak tahu sampai kapan warga eks gusuran ini tinggal dirusun dengan gratis. Kata dia, saat ini Pemerintah Kota Tangerang melihat kondisi warga dari kemanusiaan karena sangat tidak layak tinggal diareal pemakaman.

Sementara itu, Yanto, perwakilan ormas BPPKB Kota Tangerang, mengatakan, hak-hak warga akan tetap diperjuangkan sampai tuntas.

“Iya, kami akan terus berjuang menuntaskan masalah ini. Hak-hak warga korban gusuran harus diberikan oleh Pemerintah Kota Tangerang dan atau pengembang Palem Semi,” kata Yanto dilokasi Rusun.

Ia mengakui, warga korban gusuran saat ini masih mempertahankan haknya menuntut ganti rugi kepada Pemerintah Kota Tangerang. “Sampai tuntutan warga terpenuhi, entah ganti rugi atau dibangun kembali rumah mereka yang digusur. Ini akan kami perjuanganan,” tegas dia.

Memang warga punya apa? “Lah, saat ini, itu tanah masih belum jelas status kepemilikannya. Bahkan BPN pun masih memproses ploating lahan tersebut. Sementara warga telah menempati lahan tersebut lebih dari 20 tahun,” jawab Yanto.

Ia juga menepis bila Pemerintah Kota Tangerang telah memiliki sertifikat Hak Milik, atas lahan seluas kurang lebih 2,5 hektare itu. “Silakan kejar Walikota Tangerang, kalau mengklaim sudah memiliki sertifikat tanah itu,” ketus dia.

Sebelumnya, pada Senin (11/12) warga korban gusuran ini melakukan aksi demo di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang bersama elemen masyarakat. Mereka menuntut kejelasan atas penggusuran tempat tinggalnya kepada Walikota Tangerng dan DPRD Kota Tangerang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here