Pemilu Generasi Milenial

0

Oleh : Yudhistira Prasasta, Wakil Ketua DPD KNPI Kota Tangerang.

POTRETTANGERANG.ID, Opini – Pesta demokrasi masih terus bergulir di Kota Tangerang, setelah kita menikmati hangatnya perjalanan Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Banten dengan segala dinamikanya yang telah usai pada pertengahan 2017 kemarin, kita masih akan terus di sajikan oleh perhelatan pilkada kota tangerang pada 2018, disusul pileg dan pilpres pada 2019 nanti. Terlepas daripada persaingan suhu dengan tensi tinggi di sisi politis, penulis lebih tertarik untuk melihat sosiologi masyarakat kota tangerang sendiri selaku pemegang sah suara dengan berbagai macam tipologinya.

Viralnya gagasan pembentukan generasi muda menuju generasi milenial yang di cetuskan oleh William Strauss dan Neil Howe dalam bukunya Millennials Rising: The Next Great Generation (2000), menyatakan bahwa generasi milenial ini memiliki kecenderungan karakteristik umum yang lebih berwawasan sipil dengan empati yang kuat terhadap komunitas, percaya diri, terlindungi, spasial, tahan tekanan, serta visioner dalam mengejar pencapaian.

Pemilih milenial

Jika kita kembalikan bahwa menurut teori, generasi milenial adalah mereka yang lahir pada tahun 1980-2000 an, maka generasi tersebut tentu juga merupakan para pemilih-pemilih pemula atau pemilih baru. Dengan segala kecenderungan karakteristik, ditambah kemudahan informasi dan ke”melek”an teknologi, maka dapat dikatakan bahwa generasi ini adalah generasi-generasi yang sangat objektif dan terdidik.

Kondisi ini amat sangat mendukung iklim demokrasi yang sehat, tidak mengherankan bahwa kedepannya kelompok dari generasi ini akan membuat suatu gebrakan kondisi dan situasi yang memungkinkan semua serba bebas, terbuka, dan mainstream dalam perspektif generasi tersebut. Para pemilih milenial yang terkordinir dan terstruktur dengan baik tentunya akan melahirkan pemimpin yang baik pula kedepannya. Ini adalah rentetan efek domino yang amat sangat menguntungkan baik bagi penyelenggara pemilu maupun bagi jalannya demokrasi yang sehat.

Pemilih milenial yang memiliki kecenderungan kelompok yang “narsis”, biasanya akan lebih memilih pemimpin dari golongan mereka pula. Oleh karena itu, tidak mengherankan saat ini banyak lahir para pemimpin-pemimpin muda karena jika disandingkan antara calon pemimpin now dan old, maka para generasi milenial ini akan lebih memiliki kecenderungan pada calon pemimpin dengan gaya dan karakteristik now.

Generasi milenial pengawal demokrasi sehat

Demokrasi yang sehat selalu berangkat dari kejujuran dan keadilan. Menurut penulis dua hal itu adalah perangkat utama demokrasi yang sehat. Hanya saja praktik demokrasi yang terjadi belum juga sampai pada level itu, masih dalam tahapan menuju kesana.

Menciptakan iklim demokrasi dengan perangkat kejujuran dan keadilan tidak bisa tercipta jika hanya mengedepankan tugas dan fungsi para penyelenggaranya saja seperti KPU, Panwaslu, dan DKPP. Perlu juga harmonisasi dan partisipasi yang baik antara penyelenggara, pelaku, dan masyarakat.

Masyarakat dalam hal ini para generasi milenial dengan segala kelebihannya perlu agar di arahkan menjadi aktor-aktor pengawal demokrasi yang sehat. Merangkul generasi milenial dalam konteks keterlibatan aktif dalam pemilu adalah sama dengan menekan angka pelanggaran-pelanggaran pemilu. Mereka berada di setiap lini, ada di lingkup real masyarakat, lingkungan sosial media, lingkungan pendidikan, lingkungan agamis, dan lainnya.

Menjadikan generasi milenial sebagai garda terdepan pengawal demokrasi sehat adalah suatu keharusan. Tinggal melihat bagaimana para stakeholder selaku pihak-pihak yang berkepentingan akan memposisikan para generasi milenial ini. Apakah sebagai objek saja, atau justru mereposisi mereka menjadi subjek dan aktor-aktor perubahan menuju demokrasi yang milenial. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here